Anak disabilitas jadi korban pengeroyokan di Surabaya, Polisi selidiki kasus yang memicu kecaman dan empati publik luas.
Peristiwa memilukan terjadi di Surabaya ketika seorang anak disabilitas menjadi korban pengeroyokan. Kasus ini langsung menyita perhatian publik dan menuai kecaman luas. Aparat kepolisian kini bergerak mengusut tuntas insiden tersebut, sementara masyarakat berharap keadilan ditegakkan dan perlindungan terhadap anak semakin diperkuat.
Jelajahi beragam berita dan informasi menarik yang dikemas secara mendalam, akurat, dan terpercaya untuk memperluas wawasan Anda hanya di Informasi Hukum dan Keadilan.
Kronologi Dugaan Pengeroyokan Di Lingkungan Sekolah
Seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berinisial AM (16), warga Tegalsari Surabaya, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah teman sekolahnya. Peristiwa yang terjadi pada Selasa 10 Februari 2026, itu sontak menyita perhatian publik setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial dan memicu gelombang empati sekaligus kemarahan dari warganet.
Dalam video yang beredar, AM terlihat masih mengenakan seragam sekolah dan berdiri di tengah kerumunan pelajar. Awalnya situasi tampak seperti adu mulut biasa, namun dalam hitungan detik ketegangan berubah menjadi aksi kekerasan fisik ketika beberapa siswa mulai melayangkan pukulan ke arah korban. Meski sempat ada upaya melerai dari sebagian siswa lain, tindakan tersebut tidak cukup untuk menghentikan agresi. Beberapa pelaku tetap berusaha menyerang korban, membuat suasana semakin kacau dan memperlihatkan betapa rentannya posisi AM dalam situasi tersebut.
Bermula Dari Teguran Guru
Menurut keterangan keluarga, insiden bermula ketika AM diminta guru untuk mencuci muka karena tertidur di kelas. Korban yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Kecamatan Wonokromo itu kemudian menuju kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka, AM diduga dihadang oleh teman sekelasnya. Di lokasi tersebut, ia mulai menerima ejekan dan perlakuan tidak menyenangkan. Korban disebut berusaha menghindari konfrontasi dengan kembali ke kelas. Namun, gangguan terus berlanjut hingga situasi semakin memanas dan sulit dikendalikan.
Baca Juga: Tersandung Korupsi Video Desa, Amsal Sitepu Bisa Masuk Penjara 2 Tahun!
Provokasi Berujung Kekerasan
Bibi korban, Dewi, mengungkapkan bahwa ejekan terhadap AM tidak berhenti di dalam sekolah. Setibanya di luar area sekolah, korban kembali diprovokasi untuk berkelahi. Tantangan adu satu lawan satu dilontarkan secara terbuka. Situasi tersebut memancing emosi dan menciptakan tekanan psikologis bagi korban. Tak lama berselang, salah satu pelaku disebut memulai aksi pemukulan. Belasan siswa lainnya kemudian diduga ikut terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Luka Fisik Dan Trauma Psikologis
Akibat insiden itu, AM mengalami luka di bagian mata, bahu kiri, dan perut. Ia juga merasakan nyeri pada lambung setelah diduga mendapat tendangan lutut dari pelaku. Sehari setelah kejadian, korban menjalani visum untuk mendokumentasikan cedera yang dialaminya. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya dampak fisik yang cukup serius. Tak hanya fisik, kondisi mental korban turut terdampak. AM sempat menjalani perawatan di RSJ Menur untuk memulihkan kondisi psikologisnya.
Laporan Polisi Dan Harapan Keadilan
Keluarga korban telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Langkah hukum diambil agar peristiwa serupa tidak terulang dan pelaku mendapat sanksi setimpal. Menurut Dewi, perundungan terhadap AM sudah terjadi sejak sekitar satu bulan terakhir. Puncaknya adalah insiden pengeroyokan yang terekam dan menyebar luas. Dalam kondisi penuh emosi, korban sempat meminta agar kejadian tersebut diviralkan. Ia berharap keadilan ditegakkan dan para pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari www.google.com